Minggu pagi, 12 April
2026, suasana Car Free Day (CFD) di kawasan perempatan strategis depan Masjid
Syarul Islam Kuningan—tepat di pertemuan Jalan Ahmad Yani, Jalan Siliwangi,
Jalan Veteran, dan Jalan Jenderal Sudirman—tampak begitu hidup dan dipadati masyarakat.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan telah memenuhi area tersebut
untuk berolahraga, bersantai, hingga menikmati suasana akhir pekan. Di bawah
sinar matahari yang cerah dan mulai terasa cukup terik sejak pukul 07.00 WIB,
semangat pengunjung justru semakin terasa.
Di tengah keramaian
itulah, Pentas Seni SMAN 1 Jalaksana digelar langsung di badan jalan yang
menjadi pusat aktivitas CFD. Tanpa panggung megah, pertunjukan justru terasa
lebih dekat dengan masyarakat—membaur, hidup, dan penuh interaksi. Area jalan
yang biasanya dipenuhi kendaraan berubah menjadi ruang ekspresi seni yang
terbuka, di mana penonton dapat menyaksikan pertunjukan dari jarak dekat bahkan
sambil berlalu-lalang.
Acara dibuka oleh Kepala Sekolah, kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan siswa yang tersusun rapi sesuai rundown. Vokal solo menjadi pembuka yang hangat, disusul musik tradisional degung yang mengalun di tengah hiruk-pikuk jalan, menciptakan suasana kontras yang justru menenangkan.
Suara yang merdu mampu menarik perhatian pengunjung yang melintas. Dilanjutkan dengan musik tradisional degung, alunan gamelan khas Sunda mengalir lembut di tengah hiruk-pikuk CFD, menghadirkan ketenangan dan memperkuat identitas budaya lokal.
Ketika memasuki sesi tari, suasana semakin meriah. Tari Nyai Ronggeng tampil anggun di atas jalanan yang menjadi “panggung alami”, dilanjutkan dengan battle dance yang energik dan penuh semangat, hingga Tari Mojang Priangan yang ceria dan memikat perhatian masyarakat yang terus berdatangan.
Penampilan berlanjut dengan puisi yang mampu
membuat penonton terdiam sejenak di tengah keramaian, lalu Tari Zapin Marawis
yang kompak dan penuh irama, menghadirkan nuansa religius yang tetap dinamis di
ruang terbuka.
Memasuki monolog pertama, suasana langsung berubah drastis. Penampilan ini benar-benar menyita perhatian dan membuat kerumunan semakin padat. Dengan penghayatan yang luar biasa, pembawaan yang total, serta ekspresi yang sangat mendalam, penonton dibuat terpukau hingga sulit membedakan antara akting dan kenyataan. Bahkan, tidak sedikit yang mengira penampil sedang benar-benar “kesurupan” karena begitu kuatnya ekspresi dan emosi yang ditampilkan. Suasana pun “pecah” dengan tepuk tangan dan reaksi kagum dari penonton.
Penampilan
dilanjutkan dengan silat oleh dua pemain tunggal yang menampilkan gerakan
gemulai namun tegas. Setiap jurus diperagakan dengan penuh kontrol,
memperlihatkan keindahan sekaligus kekuatan seni bela diri tradisional di
tengah ruang publik yang terbuka.
Menjelang akhir, monolog kedua kembali mencuri perhatian dengan kualitas yang tidak kalah luar biasa. Dengan penggunaan properti dan pembawaan yang sangat total, penampilan ini menghadirkan emosi yang begitu nyata—tangis, tawa, sedih, hingga bahagia ditampilkan secara natural. Bahkan aksi dramatis seperti menyiram air ke wajah dan kepala sendiri membuat penonton semakin terpukau dan mengira bahwa yang ditampilkan bukan sekadar akting. Kerumunan penonton pun semakin bertambah, membuktikan daya tarik luar biasa dari penampilan tersebut.
Kegiatan ditutup
dengan vokal solo sebagai penutup yang manis, mengakhiri rangkaian pentas seni
yang penuh kesan.
Adapun susunan kegiatan berlangsung sebagai
berikut:
· 07.00 – 07.10 : Pembukaan oleh Kepala Sekolah
· 07.10 – 07.17 : Vokal Solo
· 07.17 – 07.26 : Musik Tradisional Degung
· 07.26 – 07.46 : Tari Nyai Ronggeng, Battle Dance,
Tari Mojang Priangan
· 07.46 – 07.53 : Vokal Solo
· 07.53 – 08.01 : Puisi
· 08.01 – 08.16 : Tari Zapin Marawis
· 08.16 – 08.28 : Monolog
· 08.28 – 08.38 : Silat
· 08.38 – 08.45 : Vokal Solo
· 08.45 – 09.00 : Monolog
· 09.00 – selesai : Vokal Solo
Sepanjang kegiatan
berlangsung, masyarakat tampak sangat antusias. Banyak yang berhenti di tengah
aktivitasnya, mengabadikan momen, hingga bertahan sampai akhir meskipun cuaca
semakin panas. Pentas seni di tengah jalan ini justru menghadirkan pengalaman
yang berbeda—lebih dekat, lebih nyata, dan lebih membekas.
Kegiatan ini tidak
hanya menjadi ajang unjuk bakat siswa, tetapi juga menunjukkan bahwa ruang
publik seperti CFD dapat menjadi wadah kreatif yang hidup, mempererat hubungan
antara sekolah dan masyarakat, serta menghadirkan seni sebagai hiburan yang
menyatu dengan kehidupan sehari-hari.